Papua Adalah Kita, Papua Adalah Indonesia

Belajar dari sejarah dan pengalaman hidup tentunya tidak membuat kita semakin terbelakang, namun hal itu perlu dalam menentukan langkah kita ke depan agar lebih baik. Peristiwa kerusuhan yang terjadi di Papua harusnya tidak terjadi, karena kita tahu betul dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang selama ini banyak didengungkan. Namun rupanya semboyan tersebut hanya sebatas tulisan “tak bermakna” dalam pengimplementasiannya. Berbeda-beda tetap satu jua, itulah kiranya arti dari semboyan yang sering kita dengar. Perbedaan bukan menjadi barrier untuk saling menjalin persatuan dan kesatuan tanpa melihat agama, ras, suku, dan budayanya. Berawal peristiwa mahasiswa Papua di Malang yang bentrok dengan warga yang berujung ricuh, kerusuhan manokwari dan hingga insiden yang menggugurkan 1 TNI dan 2 warga sipil di deiyai. Setalah 1/2 Jam setelah kejadian, Kantor Berita Reuters yang berpusat di London membuat berita yang menyatakan 6 warga sipil tewas di tangan apparat.Semua berjalan dengan cepat dan anehnya seperti dikoordinir dengan sistematis.”Tidak ada yang kebetulan dalam politik.kalau ada yang kebetulan, berarti itu telah di rencanakan!”-Franklin D Roosvelt, Presiden Amerika ke-36.

Peristiwa yang seakan berbau propaganda ini menimbulkan “efek domino”. Bermunculan unjuk rasa yang terjadi di beberapa titik daerah Papua dan Papua Barat disertai kerusuhan dan menimbulkan kerusakan pada 19-20 Agustus 2019. Tidak hanya di Papua, aksi protes hingga tuntutan referendum terjadi di beberapa wilayah di Jawa. Tujuannya  Apa? Disintegrasi Indonesia. Indonesia mau dimutilasi dimulai dari Papua! Belajar dari pengalaman Timor Timur,  pemerintah sudah seharusnya takkan pernah menurut pada upaya disintegrasi bangsa. Pada kasus Timor Timur, Mayoritas Rakyat menginginkan tetap bersama NKRI. Namun fakta di TPS, Timor Timur Pisah.

Konflik Papua ini membuka mata kita untuk sadar bahwa Papua adalah kita. Papua adalah “intan permata” bangsa kita yang harus kita genggam erat dan tuntun secara beriringan. Sensitifitas etnis dan budaya kemasyarakatan yang rentan menimbulkan gesekan ini, harus diakomodir dengan tepat. Sehingga, tidak ada lagi kesalahpahaman dan masyarakat tidak mudah terprovokasi. Tidak ada lagi kepentingan-kepentingan yang menimbulkan konflik dan adu domba antar anak bangsa. Sudah cukup! mari Bersama-sama kita lepaskan baju kebesaran kita (red:keangkuhan) demi menjaga keutuhan. "Sejengkal Tanahpun Takkan Kita Serahkan Pada Lawan, Tapi Akan Kita Pertahankan Habis - Habisan!"

Kita bisa belajar pada Gus Dur dalam merangkul Papua. Gus Dur dikenal berjasa dalam mengangkat harkat dan martabat masyarakat Papua sebagai sesama warga bangsa Indonesia. Kita tidak ingin seperti Soviet yang terpecah menjadi 15 negara atau mengulang sejarah negara-negara boneka bentukan Belanda dalam Republik Indonesia Serikat. Indonesia memiliki hak penuh mempertahankan Negaranya.  Tidak ada satupun orang,organisasi atau negara lain yang boleh mendikte apa yang harus Indonesia lakukan untuk menjaga keutuhan negaranya. Ingatlah jasa para veteran Operasi Amfibi terbesar di Indonesia dalam operasi Jaya Wijaya yang melibatkan 1000 wahana tempur dan 16000 Pasukan TNI yang siap membela Papua kedalam pelukan NKRI. Jangan sampai tangis air mata veteran operasi seroja Timor Timur, terulang kembali membasahi tanah Indonesia karena lepasnya papua. Jangan sampai anak cucu kita membaca buku sejarah di sekolah,tentang pernah adanya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terpecah menjadi negara-negara kecil di masa depan nanti.

Pemerintah tidak perlu khawatir dalam menangani kerusuhan bahwa negara-negara di dunia seolah mendukung adanya keinginan referendum. Masyarakat internsional paham bahwa kerusuhan di bumi Papua bukan akibat pemerintah yang opresif terhadap masyarakat di Papua. Bahkan masyarakat internasional sudah sejak lama mengakui bumi Papua merupakan bagian kesatuan dari Indonesia. Masyarakat internasional tidak pernah mempermasalahkan keberadaan bumi Papua layaknya Timor Timor saat dinyatakan oleh pemerintah Indonesia berintegrasi. Oleh karenanya pemerintah harus punya percaya diri yang tinggi untuk menyelesaikan kerusuhan di bumi Papua secara tegas, bermartabat dan cepat.

“Kita ini sama karena kita adalah Indonesia”

“Panji Sukma Nugraha Ketua PKC PMII Kaltim-Kaltara Mahasiswa Pascasarjana Universitas Mulawarman “

Share This Post

Subscribe

Dapatkan berita terbaru untuk setiap postingan kami di sini