Mahasiswa Si Penghisap Jempol

Karena kami terlantar di jalan..

Dan kamu memiliki semua keteduhan...

Karena kami Kebanjiran..

Dan kamu berpeseta di dalamnya..

Maka kami tidak menyukaimu.....

                                                                                                ~Rendra, Sajak Orang Kepanasan

Bermodal alat tulis, meja, dan apatis...

Kau dapatkanlah teori.

Bermodal tulisan, bergerak dan rebut keberanian...

Kau dapatkanlah jiwa Mahasiswa seutuhnya...

                                    ~Topan Setiawan, Rayon Dakwah PMII Komisariat IAIN Samarinda

            Berkaca pada keadaan diatas, kita hanya mengatakan pemerasaan dan kesenjangan. Itulah yang pantas dipelajari pada bangku kuliah. Rantai ketidakadilan ekonomi itu berawal jauh sekali: imperium Belanda memang tak berkenan Indonesia merdeka penuh. Tak hanya itu, kepemilikan asing tak bisa dinasionalisasi. Meski Soekarno dengan retorikanya mengutuk kapitalisme tapi usia kekuasaanya yang tak lama.[1] Serdadu yang dibantu oleh kekuatan Internasional memukul mundur gagasan itu. Sosialisme yang dibayangkan oleh pancasila langsung musnah. Bersamaan dengan itu, investasi asing dengan kekuatan raksasa mulai menyerbu masuk. Hutan, minyak, emas dan batubara jadi bahan perdagangan Internasioanal. Penduduk yang tinggal di sekitarnya hanya jadi saksi dan duduk manis untuk menjadi seorang penonton yang manis. Soeharto sang tiran memulai pembangunan dengan mematuhi prinsip kapitalisme. Kuras seluruh kekayaan alam yang sudah diberikan kepada alam itu sendiri. Papua hingga Aceh jadi tempat dimana pembunuhan dilegalkan.[2] Tak hanya itu, investasi asing melahirkan perbagai pembisinis tambang yang sedang menggerogoti kekayaan alam yang sudah dijaga turun-temurun kemurniannya oleh  para tottem-tottem[3] penjaga alam suku dayak. Adapula jawa yang dipacu oleh pembanggunan dengan industrialisasi. Muncul gelombang pekerja pabrik yang diupah dengan seadanya dan tidak diberi hak berorganisasi. Sawah-sawah petani disita untuk pendirian pabrik. Kini, sawah dimanfaatkan untuk lahan perumahan mewah. Singkatnya, ekonomi digerakan melalui ancaman dan tekanan. Pola pembangunan ini didukung oleh hutang luar negeri. Bank dunia dengan maksud untuk mengail keuntungan. Dusta pembangunan berawal dari ketidakmampuan membereskan siklus ketergantungan. Indonesia dalam jeratan kapitalisme modal.[4] Saat mata uang Thailand guncang maka efek menularnya merambat ke tahta soeharto.

            Hasil buruk dari keadaan itu adalah kekuasaan yang minim akan tanggung jawab. Siapa yang bisa diminta tanggung jawab ?, Siapa yang bisa ditunjuk untuk bertangung jawab jika angka hutang meroket ?, siapa yang mengingatkan dengan lantang bahwa bangsa ini sedang krisis moneter ?, Siapa yang dimintai pertanggung jawaban jika angka kemiskinan bertambah ?, Kita kemudian hanya mendapatkan berita dan cerita. Duka derita yang miskin hanya jadi berita yang kita semua dimintai untuk bela sungkawa. Ketegaran mereka yang lemah lalu dari cerita dimana-dimana. Lantas kita disuruh belajar pada mereka: Keteguhan, kesabaran dan ketangguhan. Maka, panggung kehidupan sosial bertabur dengan orang-orang bertabur pompaan harapan antara kepada si miskin dan si kaya. Hubungan diantara mereka bukan kontradiksi tapi harmoni. Pengetahuan jadi buhul yang mamayungi itu semua. Maka, Pendidikan tinggi hanya tempat peneguh mitos ketidakadilan dan ketidaksempurnaan sistem sosial.

            Cobalah kalian ingat Kuliah apa yang bisa membuat kalian berani ? Dosen siapa yang membuatmu tertantang untuk punya nyali ? Jika kuliah hanya deretan absensi dan ceramah basa-basi, maka pendidikan tinggi hanya menobatkan kalian jadi pemuda yang tak memiliki bakti. Padahal, sejak dulu tugas cendikiawan dan keadilan. Tanyakan pada dirimu sendiri, apa yang bisa kamu ubah dengan kuliahmu? Dirimu, lingkunganmu atau negaramu? Lalu,apa sebenarnya keinginanmu jika kuliah berjalan seperti ini? Berpalinglah sebentar pada apa yang melekat dalam dirimu:telepon genggam, laptop, celana hingga kartu mahasiswa. Seluruhnya itu menandakan statusmu sebagai apa: pelajar atau pengusaha?. Dua posisi yang kini tak bisa dibedakan artinya: mahasiswa dilatih menjadi pengusaha dan pengusaha mendidik mahasiswa. Rangkuman kedudukan itu disebut dengan kuliah wirausaha. Pertanyaanya ? untuk apa itu semuanya?. Menciptakan seorang pengusaha yang tidak memperdulikan masyarakat disekitarnya dan hanya memperdulikan kemampuan dan kedudukan tersendiri. Pengusaha yang berprinsip seperti ini disebut dengan masyarakat biadab. Mengapa demikian?, melahirkan dengan cetakan mahasiswa untuk di didik sebagai pengusaha maka apa jadinya bangsa ini apabila seluruh negara ini akan dipegang dengan pemuda-pemudi pencari uang. Kuliah kini punya tugas sederhana. Mengantarkan mahasiswa mendapatkan kerja. Di semua kampus terdapat karnaval lapangan kerja. Semua bentuk usaha dipamerkan dalam ruangan kuliah. Jika bisa mahasiswa sejak dini sudah mampu memegang kerja dan dapat mengelolah harta. Silahkan kamu lihat bagaimana kampusmu mempercantik dirinya ?        

            Mau tahu bagaimana kampus memikat mahasiswa ? jalur masuk dibuat beraneka rupa. Bayaran kuliah bahkan disesuaiakan dengan penghasilan orang tua. Kampus menancapkan diri sebagai sumber laba dan sumber pencipta penguasa. Dimana lalu empati, solidaritas dan keberanian itu dilatihkan ?. Seorang ahli pendidikan berkata, “pendidikan itu mengisyaratkan pengajaran. Pengajaran mengisyaratkan pengetahuan. Pengetahuan adalah kebenaran. Kebenaran, diamanpun, kapanpun itu sama aja!. Maka, jika pendidikan itu dimengerti secara benar, ia akan dipahami sebagai pemupukan kaum intelek. Ayo katakan padaku, mata kuliah apa yang kamu suka ? sebut padaku nilai kuliah apa yang membuatmu bangga?. Tanyakan padamu sendiri untuk apa itu semua?. Keberhasilan yang didapatkan diluar sana itu kuncinya hanyalah., Jaringan dan dikenal oleh dosen pada saat kita memiliki softskill yang diperlukan oleh kampus. Sehingga hal itu terbentuk dari adanya daya pikir imajinasi dalam menemukan ke kreatifitasan diri dan pengalaman yang cukup untuk menjadikan diri anda sebagai bekal untuk mengisi daya saing lowongan kerja. Sehingga apa yang kalian dapatkan dan duduk dibangku kuliah hanyalah sebagai pemanis kampus yang akan diperlukan apabila dibutuhkan. Ingat wahai mahasiswa !, Ir. Soekarno lahir dari sikap kritisnya sebagai mahasiswa melawan dan menuntut adanya mekanisme penjajahan yang sangat mengahancurkan harga diri bangsa[5]. Misalkan, Seorang proklamator kemerdekaan Indonesia ini lebih memilih untuk menjadi seorang karir dan lebih condong bekerja pada staff atau pegawai kolonial sehingga hanya memikirkan perkembangan dari kekayaan pribadi untuk mengenyangkan perut semata pada saat itu. Akan jadi apa bangsa Indonesia sekarang ini. Dan misalkan pula, rezim kepimpinan Soeharto pada program kerja orde baru dengan masa 32 tahun lamanya yang seluruh masyarakatnya hanya dipaksa untuk mendengarkan apa yang disuapkan oleh pemerintah dan tidak memperbolehkan masyarakat untuk membantu mencerdaskan kehidupan bangsa pada saat itu. Dan Mahasiswa tidak mencoba berpikir untuk tidak bersatu menuntaskan permasalahan pada saat itu. Maka, akan banyak ribuan mayat dibunuh dan digeletakan begitu saja apabila tidak sesuai oleh jalan pemikiran kekuasaan pada saat itu. Apa jadinya bangsa ini kedepan ?

            Namun sekarang, gerakan-gerakan pada saat ini tidak terlihat pada diri mahasiswa. Seutuhnya. Mereka akan merasa asing dan sangat risih apabila melihat adanya Demonstrasi mengembalikan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) ke tangan mahasiswa, sangat risih melihat dirinya dibela oleh orang lain. Namun dirinya pribadi hanya menonton dan mencibir apa yang dilakukan oleh gerakan dari sebagian mahasiswa yang berfikir. Melihat para penguasa kampus merampas hak karya dari kreatifitas Mahasiswa yang telah ia kembangkan di ranah fakultas. Namun, hanya berdiam, mengeluh, kesal dan tidak melakukan apa-apa sehingga dimakan oleh waktu yang terus mengahampiri kita seolah-olah memaksakan kita untuk melupakannya sejenak. Sudah semua kekuatiran dan kesangsian atas gerakan mahasiswa, hanya mereka yang sanggup membawa bangsa ini menemukan harapannya, bukti sejarah telah meyakinkan pada kita: semua penguasa jatuh di Negeri ini oleh tekanan mahasiswa. Kini saatnya gerakan mahasiswa bangkit kembali. Menyuarakan apa yang selama ini hanya jadi kereasahan dan keluhan. Tuntut kedaulatan yang telah lama hilang. Rebut semangat dari tangan mereka yang penakut. Sudah saatnya engkau sadar. Siapakah Mahasiswa itu sebenarnya ?. Menjadi penganggum materi yang lulus cepat dan menunggu adanya pemanggilan lowongan pekerjaan atau bangkit dan temukan jati diri mahasiswa yang dikenal oleh kalangan sahabat yang siap membantumu meraih impianmu dan bangsa ini.

            Jalanan itu menjadi saksi bisu. Diatasnya pernah terekam jejak banyak kaki. Kaki anak-anak muda yang menyimpan amarah dan protes. Terutama pada kekuasaan para jahannam yang mengabaikan keadilan. Bukan saja keadilan itu ditunda untuk dipenuhi melainkan juga sengaja dikhianati. Hukum yang di puja-puja ini tak berlaku untuk semua orang. Selalu saja penguasa dan jutawan dipuja-puja diperlakukan pula dengan istimewa. Teringat dengan kata Victor Serge [6] dengan perkataanya yang lantang ia mengatakan: “Kau ingin jadi apa ? pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheren tumpul keatas dan tajam kebawah?. Dokter, untuk menjaga kesehatan kaum kaya, dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik, dan waktu istirahat kepada mereka yang memangsa kaum miskin?. Arsitek, untuk memangun rumah nyaman untuk tuan tanah?. Lihatlah di sekililingmu dan periksa hati nuranimu. Apa kau tak mengerti bahwa tugasmu adalah sangat berbeda: untuk bersekutu dengan kaum tertindas. Dan menolong anak-anak yang sedang mengunyak plastik untuk perut yang sedang mengamuk”

            Jalanan itu juga merekam adegan peluru yang dihamburkan dan menumpas nyawa banyak mahasiswa yang bersimbah darah di dada dan tercecer di jalanan. Walau tak ada yang memastikan suara nyalak senapan dari mana-mana;dari situlah para penguasa tidak menggunakan kekuasaan yang kehabisan akal sehatnya. Kini, jalanan itu telah mengukir banyak peristiwa. Dulu, disana tertempel banyak pesan pembangunan. Kini, tiang itu memancung gambar muka para pejabat dan iklan produk. Dulu, pers mahasiswa selalu menempelkan isu-isu perlawanan yang selalu memberikan bahan bakar api semangat kepada kaum mahasiswa untuk menyisingkan lengan baju memberantas kezhaliman yang sangat merugikan mahasiswa lainnya. Tingkat solidaritas seorang mahasiswa seperti lebah yang berkecampuk apabila ada satu lebah yang ia sakiti. Seperti seekor kucing yang apabila ditarik ekornya ke arah yang berlawanan akan menyerang siapapun yang berani melakukan kepadanya walaupun ukurannya lebih besar daripada lawannya. Namun sekarang kenyataanya, mahasiswa seperti penghisap jempol yang takut akan absensi dan manut kepada mata kuliah. Kompetisi IPK dan menjilat perhatian dosen sebagai tujuan utama para mahasiswa dalam berkuliah. Mereka tidak menyadari, apabila kita para mahasiswa di didik untuk menjadi seorang pesaing untuk memperebutkan nilai yang diakui dapat mencetak generasi yang mengahalalkan berbagai macam cara. Sebab mahasiswa terbiasa dengan berlomba-lomba untuk mendapatkan nilai tertinggi agar dapat disanjung oleh semua orang. Hal ini akan melahirkan sebuah pemikiran yang tidak ingin memperdulikan masyarakat kalangan bawah. Tidak ingin melihat, bahwa ada orang yang sedang menangis mencari sesuap nasi untuk anaknya. Tidak ingin melihat seorang anak kecil yang sedang menjajakan sebuah makanan ringan untuk mencukupi kebutuhannya dirumah. Karena ia sangat terfokus kepada tujuannya untuk mengahcurkan lawannya yang sedang menduduki kedudukan penting yaitu kedudukan sebagai mahasiswa dengan IPK tertinggi di lokalnya. Dan adapula sebagian mahasiswa yang sangat memiliki jiwa agamis yang lebih mementingkan amal perbuatannya sendiri ketimbang melihat kenyataan sebenarnya bahwa ada orang yang sedang membutuhkan pertolongannya pada saat itu. Ingatlah wahai mahasiswa agamis, bahwa BAZNAS ( Badan Amil Zakat Nasional) sendiri tidak akan memberikan bantuan kepada orang yang hanya mementingkan ibadahnya saja dan tidak mau berusaha untuk mencari pekerjaan untuk mencukupi kehidupannya. Sebab dalam dalil hadist yaitu Dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang “ (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi, Nasaai, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban, dan Al Hakim. Imam Tirmidzi berkata : hasan shahih)

Hadist ini merupakan pokok dalam masalah tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Tawakal yang benar harus disertai dengan mengambil sebab yang disyariatkan. Mengambil suatu sebab bukan berarti menafikan (meniadakan) tawakal. Rasulullah yang merupakan imamnya orang yang bertawakal, ketika beliau memasuki kota Mekah pada saat peristiwa Fathul Mekah beliau tetap menggunakan pelindung kepala (ini menunjukkan beliau mengambil sebab untuk melindungi diri beliau).[7] Nah mahasiswa, sedangkan Rasulullah SAW sendiri masih melindungi diri kemudian menyerahkan dirinya kepada Allah SWT. Berusaha dulu baru bertawakal.

Intinya, Mahasiswa masih maukah seperti yang engkau lakukan sekarang ini? , atau bangkit !

 

Ditulis Oleh : Topan Setiawan

Ketua Rayon Dakwah Komisariat IAIN Samarinda

 


[1] Ir. Soekarno, “Dibalik bendera Revolusi”(Jakarta, Yayasan Bung Karno, 2005)  h. 54

[2] Eko Prasetyo, “ Bangkitlah Gerakan Mahasiswa”(Malang, intrans Publshing;2015) h. 31

[3] Gelar atau penggolongan pada suku dayak yang diberikan oleh ketua suku kepada orang-orang tertentu yang  telah dipercaya.

[4] Ayu Saung, “Catatan catatan Dari Bawah Tanah” (Jakarta:LP3ESS,2004) h. 34

[5] Ir. Soekarno, “Dibalik bendera Revolusi”(Jakarta, Yayasan Bung Karno, 2005)  h. 23

[6]

[7] Ahmad Ali in hajar al _Asqalani, ( Damaskus, Matrbah Dar-Al-Fhila), h. 409

Share This Post

Subscribe

Dapatkan berita terbaru untuk setiap postingan kami di sini